0

Puasa Tahun Ini

Ilustrasi Gambar: Internet*

Ilustrasi Gambar: Internet*

Tulisan ini ialah tulisan pada puasa setahun nan silam yang lupa aku publish. Kini ialah Ramadhan 1437 H dan Dia telah lahir, telah 10 bulan pula umurnya. Sedangkan cobaan itu masih terus berlanjut dan bertambah parah. Semoga Allah Ta’ala menguatkan keluarga kecil kami ini. Amin..

_________________________________

Puasa ini ialah puasa kedua yang kami lalui berdua, sebenarnya tak pula tepat kalau ku katakan “berdua” karena kami masih menumpang tinggal di rumah orang tua ku. Suamiku masih bolak-balik Padang-Bukit Tinggi setiap pekannya dan rutinitas ini selalu mendapat tantangan karena beberapa orang kawan kantor suamiku nan busuk hati selalu menggugat ketidak hadiran suamiku di akhir pekan.

Demikianlah, puasa ini sungguh sangat berlainan sekali terasa, yang terasa sekali ialah pertama, Si Dia semakin besar tumbuhnya aku cemas apakah Dia tak apa-apa apabila aku berpuasa. Kedua, puasa kali ini panasnya minta ampun, Padang ialah kota terpanas di Sumatera Barat. Semenjak awal Ramadhan hujan tiada turun, jangankan hujan, mendungpun tiada. Sungguh sangat berat terasanya, kipas angin dapat dikatakan hidup 24 jam di kamar ku. Kasihan Beruang Kutubku, dia pasti menderita sekali kalau pulang ke Padang.

Ketiga, keluarga kami tengah diuji pada puasa ini, aku dan suami berharap diberi kekuatan untuk dapat melaluinya dengan selamat. Sungguh hati ini tiada sanggup menanggung ini semua, aku berharap berkah Ramadhan dapat menjadi penawar segala luka ini. Baca lebih lanjut

0

Jalan Nasib

Catatan St.Nagari

Picture: Here

Syahdan di suatu rimba belantara, seekor elang sedang terkapar sedih dikarenakan sebelah sayapnya patah. Kalah berkelahi mempertahankan sarangnya, anak dan isterinya telah diambil.

Semalaman dia menanggung derita, berbagai macam binatang datang menengok dirinya. Menguatkan, menghibur, dan mencoba membawanya untuk tertawa. Dia tertawa, tapi hanya di dekat mereka, menghargai jerih payah mereka dalam menyenangkan hatinya.

Menjelang subuh ia meminta sekalian kawan-kawannya itu pergi, dia hendak seorang diri. Tubuhnya telah dialihkan ke bawah sebatang pokok pohon nan besar oleh kawan-kawannya.

Lihat pos aslinya 174 kata lagi

0

Alhamdulillah Hujan

Ilustrasi Gambar: Internet*

Ilustrasi Gambar: Internet*

Hampir tak setetespun hujan turun selama bulan puasa tahun ini (1436/2015), panasnya minta ampun, apalagi untuk Padang yang merupakan kota terpanas di propinsi ini. Suamiku Si Beruang Kutub sering kepayahan setibanya di sini, jendela kamar kalau dapat dibuka selama 24 jam, hanya karena aku tiada suka saja maka malam-malam terpaksa ditutupnya. Adapun dengan kipas angin, hampir dapat dikatakan 24 jam selalu hidup, kasihan kami.

“Panas, bahkan udara yang dihembuskan kipas anginpun panas terasa..” keluh suamiku pada suatu ketika “Kasur ikut pula menjadi panas, demikian pula dinding. Ini semua karena dari bawah, samping, dan bahkan atas telah dilapisi beton..” tambah suamiku.

Namun puasa terberat sekaligus yang terpanas ialah hari Sabtu tanggal 24 Ramadhan nan lalu, sungguh kami tiada tahan, beberapa menit menjelang berbuka ingin rasanya kami membatalkan puasa kami, sudah tiada sanggup lagi rasanya.

Betapa, aku merindukan hujan.. Baca lebih lanjut

0

Meratapi Masa Kanak-kanak

Catatan St.Nagari

Ilustrasi Gambar: Internet* Ilustrasi Gambar: Internet

Pada suatu senja di bulan puasa, tatkala kami semua sudah selesai berbuka, kami sekeluarga bercakap-cakap bersenda gurau. Adik lelaki kami mengisahkan pengalamannya bersua dengan seorang engku orang kampung kami. Ia sedang berjalan dengan anaknya dan ditawari tumpangan oleh adik lelaki kami. Adik perempuan kami mengisahkan bahwa si ayah dengan anak lelakinya yang masih kanak-kanak – anaknya piatu, isterinya meninggal ketika si anak masih bayi – selalu bertengkar bak kucing dan anjing “Terserah engkaulah, engkau mada[1]..” bentak si ayah pada suatu ketika.

Rupanya kisah adik kami tersebut memancing ingatan masa lalu dari kedua orang tua kami perihal ayah si anak. Ayah si anak hanya bertautan beberapa tahun dengan kedua orang tua kami, dia terlambat menikah. Ayahnya pernah berkeluh kesah kepada papa kami perihal madanya anak lelakinya, papa kami menjawab “Engkau dahulu serupa apa! Tak jauh bedakan..?!” tanya papa sambil tersenyum.

Si engku memang mada semasa…

Lihat pos aslinya 291 kata lagi

0

Langkanya Cinta dan Belas Kasih

Ilustrasi Gambar: Internet*

Ilustrasi Gambar: Internet*

Beberapa hari ini, kasus pembunuhan terhadap seorang kanak-kanak umur delapan tahun di Pulau Bali menjadi perbincangan hangat di televisi dan jejaring sosial. Betapa kemanusiaan dan rasa belas kasih telah berkurang dan cenderung menjadi mahal pada masa sekarang. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kami dan keluarga dari perkara-perkara yang demikian.

Sungguh kenangan akan berita kanak-kanak tersebut tiba-tiba terbayang-bayang di kepala. Pertanyaan kami akan rasa kemanusiaan dan belas kasihan yang sudah semakin langkapun kembali dipertanyakan oleh sang hati. Entah apa yang ada difikiran orang-orang serupa ini, apakah yang telah mereka perbuat sehingga Allah mencabut cinta kasih dalam diri mereka?

Apa gerangan salahku? Apa gerangan yang tiada disukai pada diriku? Atau jangan-jangan dia pernah membaca blog ini dan merasa bahwa beberapa tulisan dalam blog ini mengarah padanya? Mengkritisi dirinya? Baca lebih lanjut